First crush with Travel Troopers

Beberapa hari lalu gue diajak temen gue @arievrahman buat ketemu sama anak-anak Travel Troopers, yang katanya kumpulan orang-orang pecinta traveling, gue tertarik, siapa tau bisa nambah wawasan dan nambah kenalan yang sama-sama suka travel.
Begitu datang, gue langsung melihat banyak sekali anggota Travel Troopers yang datang, sekalian halal bi halal sehabis lebaran.
Banyak dari mereka yang sudah melanglang buana, ada yang baru balik dari keliling China, New Zealand & Australia, dan juga ada yang baru balik dari jalan-jalan lokal.
Acara dibuka dengan sharing dari salah seorang anggota yang baru saja menulis buku “Travel Writer” kemudian disusul sharing lain dari @arievrahman dan yang tak kalah seru sharing dari @pergidulu yang baru saja pulang dari bulan madu selama 2 bulan di Australia & New Zealand.
Acara juga disisipi kuis berhadiah merchandise, dan yang terakhir kejutan bagi salah satu anak Travel Troopers yang berulang tahun, yang bikin lucu, setelah diberi kue dan tiup lilin, si b’day boy dikerjai dengan diminta sharing pengalaman terakhirnya menggunakan bahasa Inggris.
Gue baru sekali ikut acara itu, tapi gue seneng, anaknya ramah-ramah, mungkin karena biasa bepergian dan bertemu orang asing, mereka jadi lebih terbuka dengan “orang baru”. Selain itu mereka nampak ceria, bersemangat dan awet muda. Kata Ariev “orang yanh sering traveling itu pasti awet muda, karena mereka selalu bahagia”
Setelah gue pikir-pikir ada benarnya juga. Kalau sudah hobi traveling, saat mereka jalan kemanapun pasti akan merasa senang, bebas stress, oleh katena itu kerutan di wajah akan hilang karena sering tersenyum dan tertawa. Hehe..

Gue harap gue bakal sering kumpul dengan orang-orang yang suka jalan, itung-itung nambah kenalan dan wawasan. Thank You Travel Troopers. ­čÖé

20120909-085911 PM.jpg

20120909-085942 PM.jpg

20120909-090017 PM.jpg

Berlindung dibalik keindahan Tidung

Tidung adalah satu pulau di jajaran Kepulauan Seribu. Keistimewaannya adalah : walaupun lokasinya di Pantai Utara (Jawa), namun pantai di kawasan Pulau Seribu ini berpasir putih.

Perjalanan ke Tidung dalam rangka perpisahan ama temen-temen training gue di kantor. Setelah 4 bulan bersama dan ketemu setiap hari akhirnya harus dipisahkan juga oleh penempatan.

Gue bersama 4 begundal sudah menyewa tour selama perjalanan Ke Tidung, lazimnya memang orang yang maen ke Tidung itu akan menyewa tour agent, yang akan mengurusi transportasi, makan, dan penginapan dan akomodasi lain selama di Tidung.

Biaya selama 2 hari 1 malam berkisar antara Rp. 250.000 – Rp. 350.000 / orang, tergantung fasilitas dan tour agentnya.

Perjalanan kami dari Muara Angke yang penuh dengan bau ikan asin dan jalanan yang becek berlumpur, dari Muara Angke akan naik kapal selama ┬▒3,5-4 jam. Kapal berangkat pukul 6:00, tadinya gue pikir kami bakal dapat kapal ferry yang lumayan nyaman, ternyata salah. Gue ga ngerti jenis kapal apa yang gue naikin, yang jelas kapal kecil itu berjubel penuh penumpang baik yang ingin liburan maupun penduduk setempat yang biasanya berbelanja ke Jakarta.

Kalau melihat ini, yakilah bahwa gue bukan pesakitan yang siap dilempar ke laut.

Rata-rata penumpang akan naik di atas dek kapal, selain biar tidak berdesakan dengan ikan asin yang diletakkan di dalam lambung kapal, juga jaga-jaga apabila terjadi sesuatu hingga kapal tenggelam gampang lompatnya (ketok-ketok lantai). Pejalanan minimal 3,5 jam di atas laut memang ga senyaman apabila menggunakan jalur darat. Siap mabok laut, dan ga jarang pula saat ombak besar mesin kapal dimatikan (yang mana kalo belum terbiasa naik kapal seperti ini sangat menyeramkan).

Dari tempat parkir kapal / tempat turun pertama kali saja sudah terasa indahnya.

Waktu masih di tengah-tengah laut dan kami tidak melihat ada kapal lain / pulau / bahkan burung Camar, tiba-tiba langit mendung. Tentu saja hal yang gue takutkan saat itu adalah kena badai di tengah laut. Bayangkan kena badai di darat aja udah serem, ini di tengah laut ditambah kapal yang kecil dan pelampung tipis yang hanya berjumlah 5 biji. Nmaun untungnya hanya hujan dan sedikit angin saja yang datang, langsung gue lanjutkan tidur setelah hujan sedikit berhenti. Ga seberapa lama, gue tidur, tiba-tiba terdengar suara dari awak kapal “HOII!! KAPAL MIRING KE KANAN, SEMUANYA PINDA DUDUK KE SEBELAH KIRI!!” dengan jantung berasa mau copot akhirnya gue kebangun dan geser tempat duduk, dan memang benar kalau kapal miring ke kiri karena ombak besar dan kapal tidak seimbang beratnya. Mendekati Pulau Tidung cuaca berangsur cerah dan air juga tenang.

seorang pemuda gombal berkata : Sayang, apabila kamu langit maka aku lautnya… biru kita menyatu | menyatu apanya Bang?! langit ama laut kan jauh!! #kemudianPutus

Sesampainya di Dermaga Tidung, kami langsung disambut sama tour guide kami, diantarkan ke rumah yang kami sewa sambil membicarakan jadwal akan kemana saja nanti selama di Tidung.

Karena gue dan rombongan cuma menginap semalam, maka jadwal memang agak ketat, seketat celana Jins Vidi Aldiano. Begitu sampai di rumah mungil dengan fasilitas dua kamar, tv, ac, kamar mandi, dan bed nyaman di ruang tamu, kami langsung disambut oleh makanan yang disediakan si Empunya rumah, ikan (gue ga tau jenis ikannya, yang jelas enak karena ikan air laut) dengan sambal dan lalapan, pas buat mengisi perut kami yang sudah kelaparan sejak subuh. Tour guide mengatakan akan mengajak kami untuk snorkling pada pukul dua siang, sementara itu kami bebas beristirahat.

Karena sudah terkenal sebagai tempat wisata, penduduk Tidung ini cukup ramah dan tahu bahwa pengunung Pulau ini merupakan salah satu mata pencaharian mereka.

Pukul 2 siang, tour guide kami datang, kami diminta bersiap untuk segera ke kapal yang akan mengangkut kami ke tempat snorkling. Di rumah yang kami sewa juga sudah disediakan sepeda sebagai alat transportasi kemana-mana, pulau Tidung tidak terlalu besar, jadi sekalian olahraga gitu, pas mau jalan kami diributin salah seorang temen cowok (Sebut saja Koko) yang GA BISA NAIK SEPEDA DAN MINTA DIBONCENG. Kalo ada yang ga bisa naik motor gue masih maklum, namun kalau ga bisa naik sepeda kayaknya kebangetan, cowok pula, mana badannya gede trus siapa yang mau ngebonceng? Akhirnya tugas membonceng diputuskan dengan suit, yang kalah boncengin si Koko dengan badannya yang memel itu.

Kapal yang digunakan kapal nelayan kecil, cukup untuk 4-5 orang

Berbekal peralatan snorkling yang sudah disediakan oleh guide dari penginapan, kami dibawa dengan perahu motor kecil ke tengah laut, tempat dimana terumbu karang banyak berkumpul. Setelah dapat beberapa pengarahan dari tour guide kami pun segera masuk ke air buat lihat terumbu karang sekaligus memberi makan ikan. Hati-hati saat berenang di tempat yang banyak karang, kaki gue lecet-lecet karena (entah kenapa bisa) nabrak karang. Sayang sekali waktu itu ga ada yang bawa under water camera, adanya cuma under wear basah.

Kalo lihat ini gue malah berpikir kalo kami ini seperti korban bencana Titanic.

Setelah puas bermain-main dalam air dan hari juga sudah sore, kami pun segera kembali ke Pemukiman. Sore kami sempat mampir ke Jembatan cinta (katanya banyak yang jadian disini), ambil beberapa foto buat narsis. Di jembatan cinta tersebut juga digunakan sebagai ajang lompat indah oleh para amatir, biasanya orang-orang beradu keberanian dengan melompat dari atas jembatan itu. Gue ga tertarik, selain karena ga yakin bisa mengatasi panik saat melompat, gue ga lihat ada mas-mas penjaga pantai ganteng seperti dalam film baywatch (iye gue produk jadul).

Tolong fokusnya ke jembatan dan lautnya saja… jangan ke perut modelnya.

Sendirian aja neng?

Sorenya kami kembali ke penginapan naik sepeda, karena sudah maghrib. Pas perjalanan pulang gue sempet nyasar, temen-temen gue menghilang dan karena jarak dari pantai ke penginepan cukup deket gue santai aja menuju penginepan, sialnya setelah beberapa kali muter-muter ga jelas, gue baru nyadar kalau gue 100% nyasar, dan entah kenapa jalan apapun yang gue pilih, mentoknya ke daerah kuburan juga. Karena udah merinding dan putus asa, gue nanya-nanya ke penduduk yang jual rujak, waktu ditanya penginepan gue namanya apa dan di jalan apa gue panik. “njrit! gue ga tau rumah yang gue sewa di jalan apa dan siapa nama pemiliknya”

Akhirnya setelah mengingat beberapa tempat yang gue lewati, gue diantar sama si mbak penjual rujak buat cari rumah. Huhuhuu mbaknya baik banget, semoga bahagia selalu ya mbak.. Begitu sampai di belokan gang penginapan gue, gue ketemu temen-temen gue yang juga panik cariin sejak sejam yang lalu.

Malamnya kami makan malam ikan bakar di tepi pantai, sambil dihibur karaoke dangdut oleh si pemilik tempat makan, puas makan ikan kami kembali ke peninapan dan tidur nyenyak, karena paginya kami akan memburu sunrise di Tidung.

Karena iseng bisa muncul kapan saja, termasuk di Tidung

Paginya kami bersepeda kembali ke dermaga cinta dan berjalan menuju pulau di seberang Tidung, lokasinya asik buat berfoto ria, selebihnya menyenangkan buat pacaran (kalau bawa pacar). Puas foto-foto hingga siang kami kembali ke penginapan dan beberes pulang.

Saat perjalanan pulang, ternyata ombak lebih besar, kalau pas berangkat gue bisa tidur di perjalanan, pas baliknya gue sibuk berdoa. Berdoa biar kapal yang gue tumpangi ga terbalik diserang ombak besar, terlebih karena temen gue ada yang mimpi tenggelam malam harinya. Ternyaya akhir-akhir gue baru tau, kalau ombak pas balik dari Tidung ke Jakarta memang lebih besar dari sat berangkatnya. Untung gue slamet, bukan Eva *loh*.

Begitulah perjalanan Tidung, foto-foto selama disana gue posting di bawah yee..

Berjemur ala orang Indonesia : masih pakai baju lengkap

 

 

 

Menyusuri Green Canyon tanpa perlu terbang ke Amerika

salah satu dinding Cukang Taneuh atau yang biasa disebut Green canyon, kalau tidak banjir bisa lompat dari atas air terjun ini.

Sekitar dua atau tiga tahun lalu, gue bersama keluarga main ke rumah Saudara di Tasikmalaya.

Karena lokasi rumah saudara gue tidak banyak objek wisata, akhirnya Om gue mengajak ke Pantai Pangandaran, gue senang tentunya, karena setelah 20 tahun tinggal di Gunung, dan sudah bosan dengan hawa dingin, tiap kali mendengar kata pantai hati ini langsung bergemuruh (mengikuti suara ombak), selain penuh dengan air (ya iyalah pantai masak mau penuh batu) gue juga suka dengan pasir putih dan panas matahari.

Begitu sampai di Pantai Pangandaran gue sedikit kecewa, ternyata pantainya ga seperti yang gue harapkan. Pantai Pangandaran yang gue bayangkan hampir-hampir mirip dengan Pantai di daerah Uluwatu Bali ternyata sangat ramai! saking ramainya sampai gue ga bisa bedain yang mana pasir pantai dan yang mana manusia, hampir seluruh permukaan pantai tertutup warna-warni manusia yang entah berenang, berjemur, atau sekedar makan jagung sambil berendam (asli gue juga ga ngerti apa yang ada dalam pikiran orang ini, mungin saja dia merasa dirinya spongebob).

Akhirnya setelah sebentar berkeliling dan melihat-lihat situasi, om gue mengajak ke Green Canyon. Mendengar kata Green Canyon wajah gue sumringah hampir menangis terharu, ga ada angin ga ada hujan om gue mau bayarin kami sekeluarga ke Amerika sana. Namn 5 menit kemudian gue disadarkan, bahwa Green Canyon yang dimaksud om gue bukanlah Jajaran tebing berwarna hijau di Amerika sana, namun ternyata sebuah aliran sungai yang menembus gua (kira-kira seperti itu penggambarannya).

Dan selama perjalanan dari Pantai Pangandaran ke Green Canyon gue dapat banyak cerita dari Om, salah satunya Green Canyon itu sering disebut penduduk sekitar dengan nama Cukang Taneuh yang artinya jembatan tanah, karena konon terdapat jembatan yang terbuat dari tanah yang menghubungkan lembah dan jurang di daerah itu.

Sesampainga di Green Canyon / CT kami disambut aliran air sungai yang cukup besar, sayang sekali karena kedatangan kami pada saat musim penghujan, air sungaiyang biasanya berwarna hijau berubah menjadi coklat karena banjir, sehingga air sungai bercampur lumpur. Namun hal tersebut tidak mengurangi kenenangan di sana.

Dari sinilah perjalanan menelusuri sungai dan gua dimulai (abaikan yang narsis di depan)

Tiket masuk ke Green Canyon / CT dikenakan sebesar Rp. 12.500,- / orang, apabila ingin segera menyusuri sungai dan menikmati dinding stalaktit raksasa dapat langsung menyewa perahu dengan harga Rp. 57.000,- / perahu. Satu perahu dapat diisi hingga 6 orang, jadi apabila perginya ramai-ramai tentunya akan semakin murah (kecuali kalau rombongan pada ga mau bayar dan elo yang terpaksa mentraktir).

Walau tidak mendapat kesempatan untuk berenang (ada kesempatan pun belum tentu gue pakai karena gue takut buaya / biawak yang katanya masih sering bermunculan di sungai..hiiii) kami tetap menikmati perjalananan menyusuri sungai, apabila sudah dekat dengan lokasi, akan terlihat dinding-dinding stalaktit raksasa yang beberapa diantaranya dialiri air sehingga seperti banyak air terjun kecil di kanan kiri.

ini jasa tukang pijat spesial, setelah dipijat tamu akan didorong ke sungai untuk kemudian dijadikan santapan buaya
Selama perjalanan akan banyak berpapasan dengan rombongan lain, kalo lagi iseng bisa saling mencipratkan air ke rombongan lain.

Kata yang mengemudikan perahu, kalau sedang tidak banjir air di sungai berwarna biru kehijauan, saat itu yang terlintas di kepala gue adalah mungkin saja itu pipisnya Hulk, tapi lupakan. Dalam perahu ada dua orang pengunjung di luar keluarga gue, karena saat itu kami hanya berempat sedangkan perahu muat untuk 6 orang, yang naik adalah dua orang pemuda tanggung, dengan wajah lumayan manis namun pada saat diajak ngobrol rada ga nyambung. Seperti contoh : dia : “kerja dimana neng?” | gue : “masih kuliah kak” (padahal sudah lulus, cuma biar keliatan muda aja) | Dia: oh, kuliah dimana? | gue: “di Undip” | dia: “Undip itu Padjajaran?” | gue : *mengernyit* “engga, di Semarang” | Dia : “Semarang itu daerah Bandung juga?” | gue: *ceburin si cowok duduls biar ┬áberhenti nanya-nanya*.

Kalau begini berasa maen film Anaconda ya?
Bagi yang belum mandi boleh sekalian mandi besar disini.

Begitu sampai di ujung perjalanan, stalaktit makin rapat, dan diujung terdapat gua besar yang dihuni oleh banyak kelelawar. Begitu sampai di ujung, gue merasa seperti di dalam gua yang langit-langitnya sudah runtuh, air yang menetes dari stalaktit di kanan kiri makin memperkuat kesan menarik di CT ini.

Bagi yang ingin olahraga ekstrim, dapat melompat dari atas dinding-dinding ini.
Mulai masuk daerah ini, dinding makin merapat, dan luas sungai makin sempit.
ada yang berminat untuk rock climbing disini?

Demikian, sedikit cerita jalan-jalan di Cukang Taneuh alias Green Canyon milik Indonesia ini. Satu lagi, apabila musim sedang baik dan tidak banjir boleh mempersiapkan alat selam / snorkeling, karena ikan-ikan warna-warni banyak bermunculan apabila arus sedang tenang.

Merapi dan Gempa Jogja 26 Mei 2006

Semua berawal dari keisengan kami, para mahasiswa dan mahasiswi yang sedang berjuang menempuh tugas akhir. Hubungannya apa sama Merapi? Jadi Gini… Saat itu gue bersama 5 orang temen kampus pengin refreshing dengan jalan-jalan ke Jogja karena sudah suntuk dengan tugas akhir yang bikin pusing. Berangkat dari Semarang naik motor berboncengan 6 orang, perjalanan melewati Salatiga – Kopeng dan mampir dulu di Ketep Pass, museum vulkanologi yang berada di daerah Magelang, perjalanan berkabut diiringi hujan gerimis sepanjang perjalanan.

di musim hujan, biasanya kabut muncul mulai pukul 1 Siang, saking tebalnya sampai jarak pandang hanya 2-5 meter.

Karena waktu itu status Gunung Merapi sedang “siaga” maka Ketep Pass merupakan salah satu objek menarik untuk dikunjungi karena salah satu gardu pandang Gunung Merapi, di dalamnya ada museum Gunung Merapi di mana banyak sekali foto-foto erupsi merapi dari jaman penjajahan Belanda. (jangan tanya gue gimana caranya jaman segitu dah bisa dapat foto puncak merapi).

kalau kabut sdah mulai turun, mau foto senarsis apapun percuma, hasilnya juga mentok kayak gini.
niatnya mau ambil gambar tulisan Ketep Pass, tapi sama aja gara-gara kabut ya jadi ga keliatan.

Kalau sore dan kabut tidak tebal, dari Ketep Pass kita bisa melihat rentetan pegunungan mulai dari Merapi, Merbabu, Ungaran, Sumbing, dan lain-lain. Lebih beruntung lagi apabila saat senja kabut tidak turun, berarti bisa melihat matahari tenggelan dari balik Gunung-Gunung tersebut.

Merapi yang tampak jelas dari Ketep Pass saat udara tidak berkabut
Kata temen gue sih ini Gunung Sumbing, karena gue ga tau bener apa engga ya gue percaya aja.

Nah, puas bermain-main kabut (hati) di Ketep Pass, kami melanjutkan perjalanan ke Muntilan, karena rencananya kami akan menginap di rumah salah seorang temen di sana.

Sesampainya di Muntilan, kami cuma mampir untuk mandi, makan dan ganti baju. Setelah itu lanjut jalan ke Malioboro Jogja buat menikmati jagung bakar, jajanan kaki lima dan mendengar nyanyian dari para musisi jalanan seperti yang diceritakan Katon Bagaskara “musisi jalanan mulai beraksi.. seiring laraku kehilanganmu..”

Puas makan, dan nongkrong di Malioboro, kami mampir ke Kopi Arang di dekat Stasiun Tugu Yogyakarta. Kopi hitam yang aromanya khas karena di dalam koinya di masukkan arang, katanya sih biar kopinya ga sepet. Dan setelah puas ngopi perjalanan dilanjutkan ke arah Puncak Merapi karena kami ingin melihat lelehan lahar panas Merapi yang indah di malam hari.

Pukul 3 pagi, Sampailah di perbatasan daerah Bebeng, dimana daerah tersebut sudah menjadi titik maksimal untuk melihat lelehan lahar panas, desa-desa di atas kami sudah dikosongkan dan penduduknya di pindahkan sementara ke Posko penampungan, sedang kami bersama beberapa bapak-bapak yang bertugas menjaga keamanan sekaligus mengawasi lahar Gunung Merapi.

Kondisi suhu dibawah 16 derajat celcius, kami menanti subuh sambil melihat lelehan lahar panas berwarna merah.

Setelah hari mulai terang, tiba-tiba terdengar suara gemuruh dari kejauhan disusul dengan “goyangan” beberapa orang yang masih di dalam rumah dan posko berlarian ke jalan karena sambil berteriak gempa. di samping terdapat satu mobil avanza yang seperti melompat-lompat sendiri, waktu itu gue sadar kalau gempa ini cukup besar, bahkan mungkin gempa terbesar yang gue rasakan seumur-umur. Dua menit setelah gempa awan panas atau yang familiar disebut dengan “wedus gembel”┬ákeluar dari puncak Merapi, melihat posisi kami yang hanya 5-6 km dari Puncak Merapi kami sudah merasa ketakutan, takut kesamber awan panas dan kemudian berubah jadi debu padahal belum kawin.

Awan panas yang berbentuk seperti panda yang berlari
Awan panas yang semakin mendekat

Karena awan panas sudah semakin dekat dan tim evakuasi bencana sudah meminta kami untuk turun, maka kami memutuskan untuk segera menuju Kota.

Sesampainya di kota, ternyata keadaan tidak lebih baik, macet dimana-mana, sebagian bangunan hancur dan pecahan kaca bertebaran di jalanan, kami terus berjalan sampai ada ratusan orang berlari dari arah lawan sambil berteriak “ADA TSUNAMIIII!!! CEPAT LARI”

Sial! batin gue, kami pun reflek balik arah dan tarik gas sekuat mungkin karena takut tersambar air bah besar yang sempat memakan banyak korban di wilayah Aceh dan Sumatra tahun 2004 lalu, karena keadaan sangat kacau rombongan kami pun sempat terpisah. Gue dan temen yang boncengin gue berhenti di salah satu wartel (iya, jaman dulu wartel masih hits) sambil mencari berita apakah benar ada tsunami. Beruntung waktu itu gue bawa hp yang memiliki fitur radio, di siaran radio diberitakan bahwa tsunami hanyalah hoax atau bohong belaka, kami pun lega. Ga sengaja gue lihat ada mas-mas tinggi besar bertato yang sedang menghubungi mamanya di Medan, terdengar si mas-mas bicara di telepon “Ma, tolong aku Ma.. ada gempa dan tsunami, aku tak punya uang untuk balik ke Medan” seketika pengin gue puk-puk si mas.

Mall Saphire yang juga menjadi korban gempa

Kami pun kembali ke Muntilan dengan rasa capek yang luar biasa namun senang karena semua selamat. Sampai di Muntilan gue lihat berita di tv, banyak korban jiwa karena Gempa barusan. Gue sedih, namun bersyukur karena masih diberi kesempatan hidup. Semoga para korban yang tewas tenang di sisi-Nya.

 

 

 

a Travel to Segara Anakan – Sempu

Sebenarnya postingan ini sudah pernah ada di blog gue yang lama, dan gue pindahin kesini dengan sedikit editan (santai, tidak mengurangi makna kok)

Tanggal 27 Mei – 1 Juni 2010.

Berawal dari pertemanan gue dengan Ponco, salah satu temen kuliah. kebetulan Ponco ini alumsi Sipeas SMA 1 Semarang (yang anak SMA 1 Semarang pasti tau kepanjangannya Sipeas apa) karena gue bukan anak SMA 1 Semarang ya jadi gue ga tau.. hehe…

Intinya Sipeas itu kelompok pecinta alam, nah Ponco dan teman-teman (salah duanya) Benny dan Tile merencanakan buat pergi ke Sempu, salah satu pulau di selatan Malang, gue lupa tepatnya berapa jarak Malang – Sempu tapi cukup buat bikin badan kurus plus masuk Rumah Sakit kalau ditempuh dengan jalan kaki.

bagi yang penasaran letak Pulau Sempu di Peta, nah Pulau Sempu itu yang satu titik kecil di bawah Kab. Malang

Perjalanan dimulai dari hari Kamis, 27 Juni 2010. Gue dan 7 orang teman, brangkat malam dengan menggunakan kereta ekonomi dari stasiun Poncol (nama stasiunnya memang mirim Ponco temen perjalanan gue). Harga kereta Rp 26.000,- dari Stasiun Poncol sampai Sasiun Kota Baru Malang. Kereta datang jam 21.30 (menurut jadwal) di Stasiun Poncol Semarang tapi terkadang kereta terlambat hingga setengah jam.

Karena baru pertama naik kereta ekonomi agak kaget juga, karena dari naiknya pun sudah berebutan masuk dengan penumpang lain, untuk mempermudah penggambarannya bisa dibayangkan tayangan arus mudik lebaran di tv. Sampai di dalam… penuh sesak, orang2 duduk berdesakan, sebagian berdiri, sebagian lagi tidur dibawah kursi penumpang atau duduk dilantai, mau melangkahpun susah.
Kami bertujuh masuk berpencar dan akhirnya terpisah, beruntung gue bareng ama satu temen cewek dan Alhamdulllah dapat tempat duduk, meskipun harus berbagi dengan 3 penumpang lain di tempat duduk, untung gue dulu masih kurus, jadi masih bisa nyempil.

Persiapan sebelum ke Pulau Sempu

Sampai di Stasiun Kota Baru Malang, kami bertemu dengan satu orang teman yang tinggal di Malang untuk ikut dalam rombongan, setelah istirahat bentar makan rawon di Stasiun, perjalanan dilanjutkan dengan mencari angkot sewaan menuju ke pantai Sendang Biru.
rata-rata biaya sewa mobil atau angkot ke Sempu berkisar antara Rp 200-400 ribu sekali berangkat. tergantung jenis kendaraan,dan memang harus pintar menawar. Perjalanan dari Malang sampai ke Pantai Sendang Biru memakan waktu sekitar 3-4 jam, melewati bukit karang, gunung, jalan berkelok, dan hutan jati.

Wajah-wajah penjahat yang akan dibuang ke laut

Sampai di Pantai Sendang Biru, kami langsung disuguhi pemandangan pantai dengan pasir putih dan pulau-pulau kecil di seberang. Untuk menuju Pulau sempu, kami harus menyewa kapal nelayan yang sudah banyak tersedia disana. Untuk biaya masuk ke pantai sendang biru hanya dikenakan biaya sebesar Rp 5.000,- per kepala, kalo bawa kaki ya nambah lagi Rp. 3000,- hahaha engga boong, cuma Rp. 5000,- doank seluruh badan dan bawaan kok. Jika ingin menyeberang ke Pulau Sempu dan mendirikan tenda, wajib lapor ke petugas jaga yang ada disana, nanti akan diberi pengarahan seputar aturan-aturan selama memasuki wilayah Pulau Sempu, untuk masalah biaya perawatan pulau dikenakan seikhlasnya.

Untuk menuju ke Pulau Sempu harus menyeberang naik kapal nelayan

Satu hal yang perlu diperhatikan bahwa pulau Sempu ini merupakan pulau konservasi, dimana, seluruh biota yang ada didalamnya dilindungi olah negara untuk kepentingan budidaya dan pelestarian alam. Jadi yang berniat masuk ke Pulau Sempu tidak boleh melakukan kegiatan yang bisa mengganggu kehidupan flora maupun fauna yang ada di situ. Semua sampah harus dibawa pulang/ leluar dari Pulau sekembalinya kita dari Pulau Sempu.
Sesampainya di Pulau Sempu, kami masih harus melanjutkan perjalanan menuju Segara Anakan kalau tidak salah, perjalanan sekitar 3-5 km ditempuh dengan jalan kaki, melewati hutan, karena memang itu satu-satunya jalan menuju ke Segara Anakan.

Seharusnya perjalanan dapat ditempuh dengan waktu sekitar 2-3 jam perjalanan, dengan catatan tidak musim hujan dan jalan kering. Akan tetapi karena pada saat itu sedang musim hujan, sehingga jalan sangat becek, berlumpur dan juga licin, ditambah waktu mulai perjalanan yang sudah terlalu sore (waktu itu jam 16.30 WIB), kami baru sampai di Segara Anakan pukul 12 malam. Bagi yang berencana melakukan perjalanan ke Segara Anakan, gue sarankan buat memakai sepatu boot, karna kalo pakai sepatu biasa rawan rusak dan jebol,sepatu salah satu temen gue jebol sehingga terpaksa dilepas dan jalan tanpa alas kaki, gue ga jebol tapi karena jalanan penuh lumpur sepatu sering lepas, sampai akhirnya ikutan nyeker, padahal jalan penuh akar pohon dan juga karang, sampai baru jalan kira-kira 1 km gue terpeleset sampai kaki masuk ke dalam akar pohon, sialnya di bawah akar pohon itu banyak batu-batu tajam sampai dan alhasil sudah terperosok ketusuk batu tajam pula kaki gue.

Perjalanan dengan kondisi jalan basah dan licin diperparah dengan kurangnya pencahayaan, karena di tengah hutan ga ada lampu atau petromaks (ya menurut elo? di tengah hutan gitu) yang bawa senter pun cuma dua orang, gue sendiri bawa senter, tapi sialnya ada di dalam backpack, males bongkar-bongkar. Belum cukup perjuangan, kami masih harus menghadapi dingin udara, karena di tengah perjalanan hujan sempat turun, dan otomatis jalanan makin basah dan licin.

Perjalanan terhenti beberapa kali karena capek, karena kondisi gelap, ga jarang juga kami jalan sambil meraba-raba dinding pohon atau jurang sambil mengabaikan risiko adanya ular sanca atau binatang lain yang mungkin saja pengin kenalan ama kami. Sampai pertengahan jalan suara deburan ombak sudah terdengar, semangat langsung muncul karena kami berpikir bahwa tujuan sudah dekat, namun kami melupakan satu hal SEMPU ITU KAN PULAU KECIL YANG DIKELILINGI OLEH LAUT LEPAS!! YA IYA AJA PASTI KEDENGERAN DEBURAN OMBAK NYET!!!” teriak gue dalam hati setelah beberapa jam setelah mendengar deburan ombak pertama kami tak kunjung sampai di tujuan.

Dan akhirnya, setelah melalui 7 jam perjalanan, kami lihat air! bukan air mata atau air keringat yang menetes karena kelelahan, namun air tergenang seukuran danau. “YAY!! KITA SAMPAI” Sesampainya di camping ground Segara Anakan, semua lelah terbayar sudah, walaupun sampai sana udah tengah malam, namun keindahan laguna Segara Anakan sudah mulai terasa. Baru sampai gue dan teman2 langsung berenang di Pantai buat bersihin segala macam lumpur dan (mungkin) kalajengking yang menempel di badan, setelah itu bikin tenda di pinggir pantai. ingat yaa.. di Pulau Sempu tidak ada hotel atau penginapan, jadi semua peralatan mulai dari tenda, kompor, makanan sampai air bersih(iya air bersih, temen gue ada yang jalan sambil bawa galon aqua) harus dibawa dari sebelum menyeberang ke Sempu.

ini pemandangan Segara Anakan di Pulau Sempu, pasir putih, air biru kehijauan, dan terumbu karang yang tak terlupakan

Pagi dibangunkan oleh suara debur ombak, namun kedamaian dan ketenangan itu ga berlangsung lama, belum juga melek, temen udah teriak “HOOI AIR PASANG TENDA KITA KEBANJIRAN!” ┬ádan gue yang masih tidur sambil membayangkan dipeluk sama bule di pinggir pantai langsung lari menyelamatkan diri (oke ini lebay), akhirnya kami memindahkan tenda ke daerah yang jauh dari bibir pantai.

Berenang, snorkeling, berjemur, pipis semua bisa dilakukan kecialu mandi air tawar

Segara anakan di Pulau Sempu bagi gue adalah sebuah “miniatur pantai” alias pantai mini, perpaduan antara pantai dan danau. Bentuknya seperti pantai dengan pasir putih dan air laut berwarna biru kehijauan, dikelilingi oleh “dinding” karang, sumber airnya berasal dari air laut pantai selatan yang lewat melalui celah diantara karang yan mengelilingi laguna. Saat sedang surut, tinggi air di laguna bisa turun hingga selutut, hal tersebut memungkinkan kami untuk berjalan-jalan sampai di ujung bagian dalam laguna.

Dua sejoli sedang memikirkan bagaimana mengatakan kepada pasangan bahwa mereka sedang kebelet pup

Di belakang camping ground merupakan hutan mangrove, dan masih banyak monyet disana (monyet beneran, bukan alay yang berpose sambil mecucu), jadi jangan kaget kalau saat ingin buang air kita ditemani oleh monyet-monyet hihi. Di samping kiri camping ground ada bebatuan karang tajam, kalau kita mendaki atau naik sampai atas, kita bisa melihat laut lepas (pantai selatan/samudera hindia) dan jika beruntung, saat pagi atau sore hari bisa melihat kawanan lumba-lumba berloncatan (gue termasuk yang beruntung sempet lihat) dan kata orang yang juga kemah disana, terkadang ada paus lewat juga di sana, (ga heran juga sih, kan samudera).

Saking beningnya sampai kuku gue yang panjang jadi keliatan (boong dink)

Bila sudah selesai dan hendak meningalkan segara anakan, harap selalu diingat agar membawa barang dan sampah masing-masing. jangan sampai merusak ekosistem yang ada disana.
oh ya hampir lupa, tarif kapal PP dari Sendang biru kep Sempu Rp 100.000,- jangan lupa untuk mencatat no hp si pemilik kapal/perahu, agar kita ga nunggu lama saat mita dijemput kembali ke Sendang Biru.

Muka 3 hari ga kena air bersih (yang berarti ga mandi juga)

Sekian cerita tentang perjalana ke Sempu, kami sampai di Pantai Sendang Biru lagi hari minggu, tanggal 30 Mei 2010, setelah itu perjalanan backpack dilanjutkan dengan mengitari Malang sampai Pandaan dan kemudian melanjutkan perjalanan ke Jogja dengan naik kereta. Nah, sampai Jogja kami menginap di salah satu teman alumni Sipeas juga, hal aneh yang saat itu terjadi adalah, kami sampai Jogja sudah pukul 12 malam, saat menunggu jemputan dari teman, ada tukang becak yang lewat sambil manggil-manggil gue, WHAT TUKANG BECAK DI JOGJA MANGGIL NAMA GUE?? apa gue seterkenal itu? karena gue ga inget pernah ketemu ama mas tukang becak itu dimana, dan biarlah tetap menjadi misteri. Paginya langsung naik kereta ke Semarang (dulu ada kereta Jogja-Semarang) dan baru sampai di semarang hari Selasa 1 Juni 2010. Karena selama di Sempu gue ga tersentuh air bersih selama 3 hari, gue gatal-gatal seluruh badan selama seminggu sesudahnya, sudah mandi dan diberi obat pun percuma, sekujur tubuh totol-totol hitam huhuhu..

sekian cerita perjalanan sempu, Bagi yang punya tips atau pengalaman lain di Sempu boleh share disini.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox

Join other followers: