Catatan Pinggir Perjalanan Lombok-Gili

Selama perjalanan Lombok-Gili kemarin gue mendapat banyak cerita dan pengalaman.

Dimulai dari scam yang sudah gue posting sebelumnya di sini , tadinya guw kira kejadian menyebalkan semacam itu sudah berhenti, ternyata sekembalinya gue dari Gili menuju Kuta gue masih menemui beberapa kejadian menyebalkan lainnya.

Pertama, kapal sewaan pribadi yang dijanjikan kepada kami untuk Pulang-Pergi Bangsal -Gili Trawangan tidak pernah ada. Kapal yang guei tumpangi dari Gili Trawangan ke Pelabuhan Bangsal Lombok ternyata juga kapal publik sama seperti  saat berangkat *sigh*, untung di kapal banyak bule ganteng nan kekar yang bisa bikin hati adem (oke ini out of topic).

Sesampainya di Dermaga Bangsal, kami langsung diserbu oleh belasan orang dari mulai kuli panggul yang kadang ga pakai konfirmasi langsung angkat barang kita dan saat diturunkan mereka minta bayaran, sampai orang-orang yang berteriak menanyakan tiket perjalanan selanjutnya yang pada akhirnya gue sadari mereka adalah calo-calo tiket gelap sekaligus penipu yang suka mengambil tiket wisatawan untuk kemudian dijual kembali.

Pasti kalian bertanya “hah?! Bagaimana bisa? maksudnya apa?” gitu kan ya? ya KAN?! baiklah kalau kalian memaksa gue ceritain sekarang “digebuk*. Jadi semenjak wisatawan baik lokal maupun asing masih di atas kapal dan hendak mau turun, di sekitar kapal biasanya sudah ada orang-orang yang berkerumun menanyakan tiket, gue sendiri waktu ditanya oleh mereka gue perlihatkan tiket gw, dan untungnya saat itu tiket gue ga diambil sama itu orang-orang. Beberapa wisatawan yang tidak beruntung, setelah mereka menunjukkan tiket, maka tiket akan diminta oleh calo-calo penipu tersebut, dengan mengaku sebagai sopir bus / travel yang akan membawa wisatawan ke tujuan selanjutnya, mereka telah berhasil mengelabui wisatawan lugu nan polos dan kemudian kabur membawa tiket travel tersebut untuk kemudian dijual lagi kepada  wisatawan lain. Satu hal yang memungkinkan hal tersebut terjadi adalah tiket-tiket yang tidak diberi nama lengkap dan ID calon penumpangnya, ga heran tiket-tiket bodong tersebut gampang banget diperjual belikan.

Kedua, apabila belum pernah ke Gili via Bangsal sebelumnya, jangan mudah percaya apa yang dikatakan masyarakat lokal. Misalnya kami telah dibohongi karena “harus” naik cidomo (kereta kuda) dan membayar IDR 20-30k untuk perjalanan yang hanya berjarak sekitar 200-300 meter :(. kalau memang males jalan segitu, bawaan terlalu berat atau memang centil aja ya silahkan kalau tetap ingin  menggunakan jasa cidomo, tapi kalau ingin menghemat dan tidak menghamburkan uang ya sebaiknya bisa dengan tegas menolak orang-orang yang menawarkan cidomo. Mereka menawarkan cidomo dan kemudian mulai mengelabui wisatawan dengan cara-cara sebagai berikut :

  • Travel / Bus yang masuk ke Bangsal harus berhenti di terminal, sekitar 300 meter dari pelabuhan, dari terminal, kemudian si sopir travel kita akan bilang “silahkan menyewa cidomo untuk kemudian diantar ke pelabuhan” sopir tersebut akan menambahi dengan kata-kata seperti “pelabuhannya masih jauh” atau “nanti capek”. Setelah itu, gue diantar cidomo ke sebuah loket penjualan tiket yang ternyata hanyalah COUNTER AGEN TRAVEL yang telah menipu gue 🙁
  • Di agen travel abal-abal tersebut kami diberi tahu bahwa kapal yang menuju Gili Trawangan baru saja berangkat, dan gue beserta satu orang temen gue merupakan dua penumpang yang tersisa. sedangkan kapal selanjutnya akan berangkat saat sudah terdapat 30-40 orang lagi. Tips : kapal menuju Gili Trawangan berangkat setiap jam mulai pukul 8.00 pagi hingga 16.00 sore, jadi jangan takut kehabisan kapal publik.

 Nah, balik ke perjalanan dari Bangsal ke Kuta Lombok. Kami dengan selamat telah bertemu dengan sopir travel yang akan mengantar kami menuju Kuta Lombok, travel dengan mobil APV tersebut menaikkan enam penumpang, Gue, Temen gue, 2 cewek bule, 1 cowok bule dan 1 mbak-mbak wisatawan lokal dari Bandung.

Baru sekitar 45 menit perjalanan, sopir menghentikan mobil di depan sebuah kantor travel yang tutup. Kemudian dengan wajah bingung sopir menyampaikan ke tiga bule yang duduk di belakang kalau mereka harus turun disitu. Sopir bus mengatakan kalau dia hanya dititipi oleh temannya untuk mengantar 3 bule tersebut ke tour & travel tersebut, tiga bule menyanggah dan mengatakan kalau mereka sudah membayar full untuk dapat diantar sampai ke Kuta Lombok. Si sopir bilang kalau mereka tidak punya tiket, mereka tidak bisa diantar sampai ke Kuta, si bule bilang “gimana kita bisa punya tiket, orang tadi tiketnya aja diambil sama orang yang ngaku sopir kok” *dang*

Gue dan temen gue akhirnya berusaha membantu dan menengahi antara sopir dengan tiga bule tersebut, menelpon agen tour yang tidak aktif nomornya, menelpon kantor yang tidk diangkat karena tutup dan akhirnya pasrah. Sopir kami membawa kami ke tempat lain dan akhirnya mengatakan akan memberi solusi bagi tiga bule tersebut.

Yang terjadi solusi yang diberikan adalah : memaksa tiga bule tersebut untuk membeli tiket pulang pergi Kuta-Gili atau Kuta-Bali, salah satu bule cewek yang kemudian gue ketahui namanya Anja mengatakan (dengan translate) “gue ga perlu tiket PP gue cuma mau bayar dari sini ke Kuta” tapi sopir kami memaksa, akhirnya Anja dkk mengalah dan membeli kembali tiket seharga IDR 200K.

Belum berhenti sampai disitu, kami (gue, temen gue dan 3 bule) juga disuruh pindah mobil dengan alasan si sopir masih menunggu penumpang lain dan itu lama. Karena sudah marah, capek dan sudah diburu waktu kami menurut saja, dan yang terjadi selanjutnya kami dipindahkan ke mobil L300 tua tanpa AC dan dengan kursi sudah rusak dimana-mana *nangis*, namun karena tak punya pilihan lain kami pasrah saja dan tetap menikmati perjalanan dengan Angin Jendela.

Jadi ya teman-teman, semua itu ternyata sindikat, mulai dari sopir travel sampai ke kusir cidomo sudah bekerja sama untuk menipu. Sopir travel yang kami percayai pun akhirnya menipu kami dengan memindahkan kami ke mobil tua busuk hingga sampai ke Kuta. Si sopir juga gue yakin tau kalo tiga bule itu ga bawa tiket, makanya bisa sembarangan nurunin penumpang. Bayar 200 ribu hanya untuk naik mobil busuk itu menyedihkan sekali, rasanya sudah seperti ditipu pacar *yak lebay lagi*.

Ketiga, sewaktu di Kuta kami jadi akrab dengan tiga bule yang sama-sama jadi korban penipuan, nama mereka Anja, Heika dan Gary. Malam terakhir gue di Kuta, gue, Gary dan Anja mengobrol disebuah bar tradisional di tepi pantai. Dari ngobrol-ngobrol tersebut gue tau berbagai cerita yang mereka alami selama perjalanan Gili-Kuta.

Mereka bilang bahwa masyarakat sekitar sering bersikap tidak sopan dan tidak menghargai wisatawan, terutama wisatawan asing, diluar penipuan tiket, ternyata Anja juga mengalami pelecehan dimana saat berada di Gili, dia sedang bersantai di tepi pantai dan tiba-tiba ada orang lokal yang menggelitik dan mencubit pipinya, setelah ditolak dengan halus oleh Anja, orang lokal tersebut bukannya mundur malah dengan pedenya mencium Anja tepat di bibir! ugh.. kalo gw udah gw gamparin kali ya, tapi apa daya, kadang wisatawan juga takut kalo melawan orang lokal, sadar dia disana cuma cewek dan sendirian, akhirnya cuma ditolak secara halus. 🙁

Gary bule dari UK juga menceritakan hal yang sama, hampir semua orang penduduk lokal yang dia temui, menawarkan ganja, alkohol, drugs, mushroom dan lain-lain. Dan bukan hanya menawari, mereka bahkan sedikit memaksa. Padahal Gay sendiri sudah berhenti merokok dan tidak ingin mencoba hal-hal yang ditawarkan itu, “mereka pikir semua bule sama apa? doyan giting sama mabok gitu?” kira-kira gitu translate kata-kata Gary.

Anja kemudian cerita kalau ada temannya sesama traveler yang datang ke Gili, setelah 4 bulan Anja menghubungi temannya tersebut, dia pikir temannya sudah berkeliling Indonesia, ternyata tidak. Temannya itu masih tinggal di Gili dan kerjaanya setiap hari hanya giting, mabok, tidur setiap hari. Sayang sekali ya.. gue sendiri bebas aja kalo orang mau smoking weeds atau drunk, tapi kalau sampai kayak gitu kasian juga :(.

Paginya, gue mengantar Anja, Gary dan Heika untuk pindah ke Banana Guest house, sesampainya disana kami ketemu sama cewek bule yang sudah dua minggu di Kuta Lombok, dia kemudian cerita betapa masyarakat lokal sangat primitive serta tidak menghargai mereka, seperti memasang harga semaunya, pelayanan buruk, tidak menjawab arah yang tepat saat ditanya, memaksa apabila menjual sesuatu, dan banyaknya pungli di tempat wisatanya sendiri. Gue sedih dan prihatin, karena sebenarnya masyarakat Lombok itu cukup ramah, ya hanya saja ada beberapa sikap yang perlu diperbaiki kalau mereka ingin pariwisata disana maju.

Satu hal catatan gue, kesiapan dalam mengelola tempat wisata juga harus dibarengi dengan kesiapan masyarakatnya. Pendidikan yang cukup, pengetahuan yang memadai, jaga keamanan dan kenyamanan pengunjung. Gue tau bahwa kita tidak selamanya bisa menuruti keinginan orang lain, tai setidaknya penuhi kebutuhan dasarnya, terutama di tempat wisata seindah Lombok. Pemerintah sekitar harusnya bisa lebih sensitif dengan keamanan dan premanisme.

Demikian catatan pinggir yang lebih panjang dari main story-nya sendiri hahaha. Semoga dapat mencegah orang-orang untuk mengalami kejadian buruk serupa.

Lombok Selatan : surga tersembunyi

Perjalanan saya dari Gili Trawangan menuju Lombok Selatan memakan waktu kurang lebih 3,5 jam dengan boat ditambah mobil sewaan.

Sewaktu memasuki wilayah pantai Kuta, yang saya lihat dari tempat ini adalah kesederhanaan.
Belum ada cafe atau diskotek dengan bangunan modern, bahkan saya jarang menjumpai hotel-hotel mewah di sepanjang jalan. Berbeda dengan kawasan pantai Senggigi yang sudah banyak “dipercantik”, kawasan Lombok Selatan masih menawarkan keluguannya sebagai tujuan wisata.

20130316-024406 PM.jpg
kamar kami di Hotel Astura, Lombok

Saya menginap di Tastura Hotel, persis di depan pantai Kuta dengan tarif IDR350k/ malam. Hotel dengan bangunan yang bergaya tahun 70-an tersebut mempunyai taman yang sangat luas dan kamar mandi denan atap terbuka. Benar-benar terasa suasana pedesaanya.

Begitu sampai kami langsung menyewa motor dengan tarif IDR50k/ hari dan langsung berkeliling pantai di sepanjang pesisir Lombok Selatan hingga Lombok Tengah.
Terdapat beberapa pantai indah yang masih sangat sepi dengan pasir putih, ombak yang tenang dan warna laut hijau kebiruan, saya seperti melihat surga tersembunyi sepanjang perjalanan menyusuri pantai. Beberapa pantai yang kami kunjungi seperti Pantai Kuta, Pantai Aan, Pantai Kotak, Pantai Seger, dan juga pantai Gerupuk. Untuk pantai yang terakhir, merupakan pantai favorit wisatawan yang ingin berselancar karena ombaknya.

20130316-024710 PM.jpg
pohon ini bagai di cerita Alice inwonderland

Setelah lelah berkeliling Pantai, saya kemudian bersantai sambil menikmati makanan dan minuman disalah satu kafe yang banyak berjajar sepanjang Pantai Kuta.

20130316-024911 PM.jpg
pasir putih di pantai Kotak

Tak selang berapa lama, beberapa teman turis asing yang satu mobil dengan kami sejak perjalanan dari Gili ikut bergabung, kami kemudian saling bertukar cerita mengenai pengalaman traveling masing-masing hingga malam.
Malamnya kami makan malam di sebuah warung nasi goreng Jawa. Yang menarik dari warung ini adalah : meskipun warungya tradisional dan seperti warung nasi goreng yang biasa terdapat di kampung-kampung, tapi 90% pengunjungnya adalah turis asing. Bahkan hanya saya dan satu orang teman yang merupakan orang Indonesia di warung tersebut.
Di Lombok Selatan, lebih banyak guest house (dengan harga mulai IDR80k-IDR150k) dan warung tradisional daripada Hotel berbintang. Setahu saya hanya Hotel Novotel satu-satunya Hotel berbintang yang berada di tempat tersebut. Wisatawan Asing yang kebanyakan merupakan backpacker juga lebih suka tinggal di guest house dengan alasan mengirit budget. Satu yang sangat terkenal adalah Banana Guest House.
Selama berkeliling Lombok Selatan saya lebih sering berjumpa dengan turis asing daripada wisatawan lokal dari dalam negeri.
Malam setelah makan malam, saya dan dua backpaker dari Norwegia dan UK melanjutkan mengobrol di salah satu bar di Kuta, namun jangan harap akan bisa nongkrong sampai pagi di Bar tersebut, karena rata-rata bar dan cafe hanya buka hingga pukul 11 malam.

20130316-025334 PM.jpg
Kolam renang hotel

foto-foto lain silahkan lihat di galeri 🙂

Gili Trawangan : Negara Pesta Mimpi

20130312-113428 PM.jpg
ini salah satu sudut dermaga Bangsal, air mineral galon dan tabung gas siap diangkut

Meski masih sedikit kesal setelah mendapatkan scam pada awal perjalanan kapal, tidak berselang lama setelah itu saya pun terhibur oleh indahnya pemandangan selama berada di atas kapal. Hamparan biru laut dengan ombak yang cukup tenang, ditambah dengan deretan bukit dari pulau-pulau di sekitar memanjakan mata saya selama kurang lebih 30 menit penyebrangan.

20130312-113556 PM.jpg
di dalam kapal menuju Gili Trawangan

Sesampainya di Pelabuhan Gili Trawangan saya tak bisa menahan diri untuk segera mengambil foto pemandangan dari pantai.

20130312-113705 PM.jpg
Dermaga Gili Trawangan

Apabila belum sempat booked hotel, di Pelabuhan banyak sekali calo dan makelar villa yang menawarkan tempat mengunap dengan harga bervariasi, mulai dari IDR250k- IDR1200k dapat mereka sediakan.

20130312-113855 PM.jpg
teras Hotel kami
20130312-114043 PM.jpg
pemandangan kolam renang dari hotel

Saya sudah memesan hotel di The Beach House dengan tarif IDR550K per malamnya.

20130312-113932 PM.jpg
Standard Room

Dengan mengendarai cidomo, saya menuju hotel yang berada di daerah timur pantai. Hal menarik sengan cidomo yang saya tumpangi adalah si Noah, kusir bule yang mengantarkan saya. Bukan kusir betulan, hanya anak dari salah seorang pengusaha ekspatriat yang membuka butik di Gili Trawangan.

20130312-113747 PM.jpg
Noah kusir kecil kami
20130312-113959 PM.jpg
berfoto dulu dengan Noah

Gili bagi saya seperti sebuah Negara Mimpi, dimana semua orang bebas (dan disarankan) untuk berpesta, berpetualang, bersantai, dan makan sekenyangnya. Daerah yang dipadati wisatawan mancanegara itupun sudah seperti bukan sedang berada di Indonesia.

20130312-114329 PM.jpg
bersantai di pinggir pantai (padahal niatnya mau foto si bule mirip David Beckham :D)
20130312-114606 PM.jpg
Restoran tepi laut di depan hotel kami

Untuk berkeliling Gili saya menyewa sepeda dengan tarif IDR50k per hari, banyak hal yang dapat saya lakukan dalam waktu sehari; mampir di berbagai cafe sambil berkenalan dengan wisatawan lain, mencicipi gelato Gili, spa, berkeliling pulau-pulau dengan kapal, snorkeling, diving, atau sekedar main kano.

20130312-114435 PM.jpg
life of Vi
20130312-114301 PM.jpg
bersantai sambil melihat wisatawan snorkeling

Pada malam hari di beberapa kafe dan bar menyelenggarakan pesta hingga pagi. Dan karena sudah seperti Negara Mimpi, berbagai pesta gila terjadi setiap hari.
Tak sedikit yang menawarkan ganja, mushroom, hingga obat-obatan terlarang selama berpesta. Dan karena ini merupakan Negara Pesta dan mimpi, maka hal tersebut terlihat biasa.

20130313-035444 PM.jpg
meikmati ‘lalu lintas’ air yang padat
20130312-114134 PM.jpg
Jus nanas segar di salah satu Cafe

Penduduk lokal Gili juga sangat menyukai Wanita-wanita dari pulau Jawa, terutama Sunda. Selama saya disana beberapa kali penduduk lokal bertanya kepada saya apakah saya orang sunda, dan setelah saya jawab tidak, sepertinya mereka sedikit kecewa. Haha.

20130312-114632 PM.jpg
kemilau air, pegunugan dan kepulauan
20130312-114709 PM.jpg
kembali ke Lombok
20130312-114210 PM.jpg
perpaduan warna langit, awan dan airnya buat ternganga ya

20130312-114653 PM.jpg

20130312-114407 PM.jpg

20130313-035138 PM.jpg
bye Gili! see you soon

Dermaga Bangsal Lombok : waspada penipuan tiket dalam perjalanan.

Perjalanan saya ke Gili Trawangan dapat dikatakan tidak terlalu mulus.
Di awal perjalanan saya menyewa mobil dan sopir yang saya temui pada malam sebelumnya, setelah setuju dengan harga sewa mobil termasuk bensin sebesar IDR 250k, si bapak langsung menjemput ke hotel.
Perjalanan dari Praya menuju dermaga kapal di Bangsal kurang lebih berjarak 49km dengan waktu tempuh perjalanan kurang lebih 1 jam 45 menit. Selama perjalanan saya sampai memaksa mata untuk terus terbuka lebar karena setiap titik yang saya lewati selalu dipenuhi pemandangan indah, mulai hamparan sawah, perbukitan hingga pesisir pantai sepanjang Mataram – Senggigi – Bangsal.
Sampai di Bangsal kami naik cidomo (kereta kuda) ke tempat penjualan tiket kapal. Kami pun langsung menanyakan tiket yang tersedia untuk kapal biasa dengan harga tiket IDR10k.
Petugas tiket menyampaikan bahwa kapal biasa baru kami saja calon penumpangnya, padahal kapal publik harus berisi 30-40 orang sekali jalan. Kami pun disarankan untuk menyewa kapal pribadi seharga IDR 400k / orang.
Karena terlalu mahal kami tidak mau mengambil paket tersebut, dan setelah tawar menawar akhirnya si penjual tiket menawarkan paket antar jemput PP dari Bangsal-Gili Trawangan dan Gili Trawangan-Kuta sebesar IDR300k.
Kata si penjual, kapal tersebut merupakan kapal sewaan pribadi. Karena sudah pukul 12 siang akhirnya kamipun setuju.
Begitu naik ke kapal kami baru sadar bahwa kami terkena scam oleh penjual tiket. Kapal yang kami tumpangi menuju Gili Trawangan ternyata kapal publik biasa yang seharusnya harga tiketnya IDR10k, dan karena tiket pulang Gili-Kuta IDR 200k, maka kami membayar IDR100k untuk tiket kapal Bangsal-Gili yang seharusnya seharga IDR10k. Antara jengkel dan pasrah kami melanjutkan perjalanan.
Tips : apabila hendak ke Gili dari Bangsal, sebaiknya cek terlebih dahulu kondisi dermaga, apabila perlu beli tiket saat akan naik kapal saja, jangan membeli tiket sebelum tahu benar kondisi kapal yang akan berangkat.
Akan lebih baik berangkat lebih awal (sekitar pukul 8 pagi) karena pada pagi hari kapal-kapal yang menuju Gili masih banyak.

Praya Lombok, si “Gadis malu-malu”

Kedatangan saya di Bandara Praya, Lombok Tengah disambut gerimis pada malam hari. Bandara yang mulai beroperasi sejak tahun 2011 ini tidak terlalu besar, namun cukup untuk sebuah penerbangan internasional.
Keluar dari pintu kedatangan, saya langsung dikerumuni oleh para calo tiket dan orang-orang yang menawarkan paket tour selama di Lombok, sembari menunggu jemputan dari Hotel, saya iseng-iseng bertanya tarif untuk antar jemput selama perjalanan hingga akhirnya mencatat nomor telp salah satu pengemudi untuk nanti apabila saya butuh transportasi.
Berselang beberapa menit penjemput dari hotel datang, dengan sedikit geli saya memerhatikan si Bapak penjemput yang datang menjemput tamu hanya berpakaian sarung dan jaket. Setelah beberapa langkah menuju tempat parkir mobil, saya kemudian mengerti, bahwa sarung di kota ini merupakan pakaian casual mereka. Hal itu dapat dilihat dari banyaknya orang yang berlalu lalang di bandara hanya dengan memakai sarung dan kaos.
Saya menginap di Hotel Grand Royal Praya, satu-satunya hotel terdekat dari bandara, hanya berjarak kurang lebih 3km dengan waktu tempuh sekitar 7-10 menit perjalanan menggunakan mobil.
Kota Praya pada pukul 10.30 malam waktu setempat sudah seperti kota mati, hampir tak ada kendaraan berlalu lalang maupun toko atau tempat hiburan yang buka, mungkin karena tempat ini baru mulai “menggeliat” dalam hal pariwisata. Padahal kalau dilihat kotanya cukup cantik, hotel yang saya tempati juga cukup bagus dengan rate IDR509k per malam, kalau diibaratkan kota Praya ini seperti gadis desa cantik yang masih malu-malu untuk menunjukan pesonanya.
Sayapun kemudian beristirahat untuk kemudian bersiap menuju Gili pagi harinya.

Foto-foto silahkan di lihat pada galeri.

Perjalanan 3 kota – Bukittinggi

Akhirnya sampailah kami di kota tujuan utama perjalanan kami, Bukittinggi.
Kami tiba malam hari, setelah sebelumnya sempat mencicipi jagung manis F1 di daerah Koto Baru Batu Hampar.
Ada beberapa tempat yang kami kunjungi di Bukittinggi sebagai berikut :
1. Jam Gadang
Tentunya belum disebut berkunjung ke Bukittingi apabila belum menengok secara langsung Jam yang jadi Kebanggaan Kota Bukittinggi. Jam berukuran raksasa yang selalu berbunyi setiap 60 menit ini cukup menarik perhatian pengunjung untuk diambil fotonya.

20130224-082942 PM.jpg
Seperti tempat wisata lain di negeri ini, tentunya akan banyak pedagang yang menggelar dagangan di sekitar. Sangat menguntungkan apabila tidak punya banyak waktu untuk berbelanja di pasar wisata.
Selebihnya katena sudah larut malam, kami hanya sempat makan di salah satu tempat makan unik bercat orange bernama Hau’s Tea. Sayangnya karena sudah terlalu lapar, saya tak sempat mengambik foto restorannya.
20130224-083326 PM.jpg
2. Lobang Jepang.
Pagi harinya kami berkeliling dengan berjalan kaki, lokasi yang kami lewati pertama kali adalah Lobang Jepang.
Gua buatan yang dibangun pada masa penjajahan Jepang ini dahulu dimanfaatkan sebagai benteng dan tempat persembunyian tentara Jepang. Saya hanya mengambil foto dari sisi luar karena harus bergegas menuju Ngarai Sianok.
3. Ngarai Sianok.
Ngarai atau lembah Sianok, salah satu tempat yang membuat saya kagum karena alamnya. Sepanjang mata memandang saya melihat tembok-tembok raksasa dari batuan yang mengelilingi sungai. Lokasi tersebut juga sering dimanfaatkan untuk lomba off road.
Di Ngarai Sianok juga terdapat objek wisata baru bernama Janjang Koto Gadang atau The Great Wall of Koto Gadang, bangunan yang menyerupai tembok besar Cina ini memikat banyak pengunjung termasuk pengunjung warga Bukittinggi sendiri. Sayangnya karena untuk menuju tempat tersebut kami harus lewati antrian panjang melewati Jembatan Gantung, maka kami mengalihkan perjalanan dengan tracking di sepanjang sungai yang tak kalah serunya.
3. Taruko Cafe Resto
Cafe yang terletak di tengah-tengah lembah ini menawarkan bukan hanya pemandangan yang indah, namun juga makanan -makanan lezat dengan harga sangat terjangkau. Apabila baru pertama kali ke Bukittinggi, sebaiknya menghubungi tour guide untuk datang ke tempat ini. Karena selain lokasinya yang masuk ke dalam, tak ada penunjuk jalan ke tempat tersebut.
4. Fort de Kock
Kurang yakin apakah saya menuliskan nama benteng ini dengan tepat, namun benteng penginggalan Belanja yang dahulu digunakan untuk menara pengawas ini akan sangat sayang untuk dilewatkan. Pemandangan dari benteng ini sangat menawan, bisa melihat separuh kota Bukittinggi, ditambah lokasinya yang dekat dengan Kebun Binatang kota, jadi sekali dayung dua tempat dijalani.
5. Pasar Wisata
Tidak usah saya jelaskan lebih lanjut, bagi yang ingin berbelanja oleh-oleh Bukittinggi, disinlah tempatnya.
6. Museum Moh. Hatta
Siapa yang tak kenal proklamator RI kelahiran Bukittinggi ini? Bagi yang ingin napak tilas ke kediaman beliau, dapat singgah ke Museum Moh. Hatta ini.

Mengitari Bukittinggi cukup dengan berjalan kaki, selain lebih sehat, akan banyak pemandangan dapat tereksplor.
Untuk masalah makanan, tentunya semua sudah mengamini betapa lezatnya makanan Padang. Namun jangan khawatir, bagi yang ingin menu selain masakan Padang, akan banyak tempat makan yang dapat dijumpai, dengan harga terjangkau tentunya. 20130224-090516 PM.jpg20130224-090500 PM.jpg20130224-090633 PM.jpg20130225-011517 AM.jpg20130225-011542 AM.jpg20130224-090403 PM.jpg20130224-090540 PM.jpg20130225-011229 AM.jpg20130224-090922 PM.jpg20130225-011313 AM.jpg20130225-011350 AM.jpg20130225-011500 AM.jpg20130225-071735 AM.jpg20130225-071809 AM.jpg20130225-072144 AM.jpg20130225-072031 AM.jpg20130225-071941 AM.jpg20130225-072014 AM.jpg20130225-072057 AM.jpg20130225-073633 AM.jpg20130225-073650 AM.jpg20130225-073722 AM.jpg20130225-073817 AM.jpg20130225-073905 AM.jpg20130225-074027 AM.jpg20130225-074105 AM.jpg20130225-074038 AM.jpg20130225-074051 AM.jpg

20130225-075008 AM.jpg

20130225-075030 AM.jpg

20130225-075019 AM.jpg

20130225-075107 AM.jpg

Perjalanan 3 kota – (tambahan kota) Payakumbuh

Rencana perjalanan berubah, tadinya kami berencana akan langsung berangkat ke Bukittinggi tanpa menginap di Pekanbaru, namun teman kami penduduk Pekanbaru memberi saran lebih baik melakukan perjalanan darat pada siang hari karena pemandangan akan dapat dinikmati apabila hari terang. Kami menurut dan memutuskan tinggal lebih lama di Kota Pekanbaru.
Kami menginap di sebuah keluarga unik, ayah teman kami orang Medan dari suku Batak, Ibu asli Riau, kakak ipar dan calon suaminya orang Jawa sedangkan teman saya walau kelahiran Riau, namun sedari sekolah hingga lulus ada di Jawa Tengah. Akulturasi budaya terjadi di sebuah keluarga kecil.
Kebetulan satu keluarga juga hobi backpacker, sang ayah bahkan sudah sampai ke Cina berangkat dari Riau menggunakan jalur darat dan laut. Jadilah kami sangat menikmati menginap disana.
Paginya kami naik travel menuju Bukittinggi, kebetulan ada teman yang menawarkan untuk mampir di kafe barunya di Payakumbuh, lagi-lagi rencana berubah, ada tambahan kota baru untuk dikunjungi : Payakumbuh.

Selama perjalanan kami menikmati jalanan pegunungan yang berkelok, sembari sesekali melepaskan pandangan ke sungai besar di tepi jalan.
Yang saya herankan disini adalah tidak adanya bus executive untuk jalur Pekanbaru -Padang, padahal kondisi jalan memungkinkan untuk dilewati oleh bus executive, begitu pula penumpang yang cenderung lumayan banyak. Saya tentunya akan lebih nyaman melakukan perjalanan yang memakan waktu kurang lebih 6 jam menggunakan bus executive daripada mobil pribadi yang disewakan untuk mengangkut kami.
Sampai di Payakumbuh kami diantar teman ke satu lokasi wisata bernama Sangau Indah. Sangau berarti gua, gua yang pernah menjadi benteng pertahanan Jepang pada masa penjajahan tersebut kini digunakan sebagai salah satu andalan wisata kota Payakumbuh.
Selain untuk tempat wisata, gua ini digunakan juga untuk beternak walet.
Tidak habis sampai disitu, daerah sekitar Sangau Indah menawarkan pemandangan khas perbukitan yang indah.

Tertarik datang ke Payakumbuh? 🙂

20130223-064649 PM.jpg

20130223-064728 PM.jpg

20130223-064754 PM.jpg

20130223-064816 PM.jpg

20130223-064830 PM.jpg

20130223-064843 PM.jpg

20130223-064915 PM.jpg

20130223-064941 PM.jpg

20130223-064958 PM.jpg

20130223-065023 PM.jpg

20130223-065039 PM.jpg

20130223-065101 PM.jpg

20130223-065116 PM.jpg

20130223-065138 PM.jpg

20130223-065157 PM.jpg

20130223-065227 PM.jpg

20130223-065242 PM.jpg

20130223-065254 PM.jpg

20130223-065320 PM.jpg

20130223-065215 PM.jpg

Perjalanan 3 kota – Pekanbaru

Setelah perjalanan penuh dengan gangguan turbulence selama 1,5 jam, kami mendarat dan disambut dengan kabut dingin Pekanbaru. Kami dijemput oleh seorang teman, dan setelah mandi kami memulai mengitari kota.
Pada umumnya, Pekanbaru bukan tempat tujuan wisata utama, setidaknya itulah yang saya tangkap dari kalimat teman yang mengantar kami berkeliling. Teman saya dengan latar belakang pendidikan S2 Jurusan Pariwisata mengatakan bahwa dia sudah putus harapan dengan pariwisata di Pekanbaru. Kota Pekanbaru merupakan kota yang kaya dengan hasil minyak dan sumber daya alam lainnya, mungkin dari situ masyarakatnya menganggap pengembangan kota di sektor pariwisata tidaklah penting, toh kota ini sudah kaya.

Tempat pertama yang kami kunjungi merupakan tempat makan yang cukup ramai di Daerah Pekanbaru, berbagai menu khas daerah ditawarkan, lokasi yang luas juga mampu menampung hingga 50 orang atau lebih. Soal masakan jangan ditanya, saya sangat suka dengan masakan melayu.
Sambil sarapan teman kami menyayangkan bahwa masih terdapat sebagian masyarakat sekitar yang kurang menghargai skill, untuk urusan pendidikan atau pekerjaan, mereka masih mengutamakan “orang-orang terdekat / kenalan” ketimbang “orang-orang yang mempunyai keahlian namun tidak mempunyai hubungan kekerabatan”.
Mendengar hal itu, saya hanya dapat mengangguk tanda mengerti. Saya tidak tahu, apakah karena budaya “kerajaan” yang masih terbawa oleh masyarakat negeri (khususnya kota ini), sehingga sebuah jabatan dirasa hanya pantas diberikan kepada keluarga atau kerabat dari “yang punya kewenangan”.
Saya kemudian menyusuri pasar tradisional sambil terus berbicara mengenai perilaku dan kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan penduduk sekitar, satu yang saya tangkap dari pembicaraan panjang kami: “saat dihadapkan pada kekuatan yang lebih besar, seberapapun benarnya kita, kita akan nampak lemah dan tidak berdaya.

Terletak di sebelah pasar tradisional, terdapat kawasan pecinan yang sedang banyak dihiasi lampion-lampion merah dalam rangka tahun baru Cina.
Selesai makan siang, kami melanjutkan berkeliling ke Rumah Adat Melayu, dimana gedung tersebut sering digunakan oleh Kelompok Adat untuk kegiatan-kegiatan adat.
Pada panggung terdapat sebuah “kursi kehormatan” bagi Pemimpin Adat atau tamu kehormatan, di kanan dan kiri kursi kehormatan terdapat gambar tenun asli Pekanbaru.
Tempat tersebut juga dihiasi dengan tulisan Pasal Gurindam 12 pada dindingnya.
Hal menarik lain di Pekanbaru selain kulinernya adalah bangunan-bangunan megahnya. Mulai dari masjid-masjid besar, gedung perpustakaan hingga gedung anjungan yang dahulu pernah digunakan untuk acara FFI beberapa tahun lalu.
Sayangnya terdapat beberapa bangunan yang masih kurang dioptimalkan fungsinya, bahkan kurang dirawat sehingga nampak kotor, yang saya takutkan adalah apabila hal ini terus dibiarkan, gedung-gedung megah tersebut akan cepat rusak.
Hal positif lain, Pekanbaru merupakan kota dengan tata kota yang apik, jalanan dengan aspal berkualitas baik, pengemudi kendaraan yang tertib berlaku lintas di jalanan, dan tentu saja kondisi jalanan yang bersih sehingga nyaman untuk dilewati.
Setelah seharian berkeliling Pekanbaru, saya merasa Kota ini cukup menyenangkan, dengan sedikit pengembangan, dan perawatan saya tudak heran apabila suatu saat nanti, kota ini akan menjadi kota metropolitan.

20130222-101149 PM.jpg

20130222-101243 PM.jpg

20130222-101409 PM.jpg

20130222-101426 PM.jpg

20130222-101445 PM.jpg

20130222-101501 PM.jpg

20130222-101542 PM.jpg

20130222-101518 PM.jpg

20130222-101729 PM.jpg

20130222-101648 PM.jpg

20130222-101707 PM.jpg

20130222-101752 PM.jpg

20130222-101807 PM.jpg

20130222-101824 PM.jpg

20130222-101842 PM.jpg

20130222-101343 PM.jpg

Perjalanan 3 jomblo ke 3 Kota – Bandung

Bulan kedua di tahun 2013, gue kembali menjalankan aksi traveling bersama dua orang teman lain, ga jauh-jauh, kali ini gue akan ke Padang.

Namun sebelum ke Padang, gue mampir dulu di dua kota yaitu Bandung dan Pekanbaru.

Perjalanan kamis malam dari Jakarta menuju Bandung, mengapa harus ke Bandung? Simple : lagi-lagi masalah tiket promo yang gue dapat adalah rute Bandung – Pekanbaru.

Tijet promo yang hanya senilai Rp. 5000,- ditambah ongkos bagasi yang terpampang di Blog Air Asia sungguh sangat sayang untuk dilewatkan, akhirnya gue dan beberapa teman membeli tiket tersebut tanpa pikir panjang. Nah, karena Pekanbaru hanya memakan perjalanan sekitar 6 jam perjalanan dengan menggunakan jalur darat, kami memutuskan untuk tidak lama singgah di Pekanbaru.

Jadilah kami harus melakukan perjalanan tengah malam dari Jakarta ke Bandung, sampai Bandung kami menunggu pesawat di Bandara Husein Sastranegara selama beberapa jam.

Gue ga akan bahas banyak tentang Kota Bandung kali ini, hal menarik yang gue temui justru di Bandara Hussein Sastranegara.

Bandara kecil ini ternyata sudah melayani penerbangan Internasional.
Jalan menuju Bandara harus melewati komplek perumahan Angkatan Darat sehingga membuat gue serasa sedang menjalani perjalanan militer (ini imajinasi gue aja sih).
Luas lokasi yang tidak seberapa ternyata tidak membuat bandara ini kehilangan keunikannya. Penataan ruang dibuat dengan sangat memaksimalkan ruang kosong. Meskipun begitu, semua fasilitas yang dibutuhkan seperti toilet, alat self check in, meja imigrasi, loket-loket penjualan tiket dan toko-toko yang menjual makanan tetap ada walau tidak terlalu banyak.
Baiklah.. Sudah boarding, postingan akan berlanjut saat tiba di Pekanbaru nanti.

20130222-044818 AM.jpg

20130222-044834 AM.jpg

20130222-044848 AM.jpg

20130222-044900 AM.jpg

From Kranji to River Side

Duh merasa bersalah banget karena gagal live-blogging buat postingan yang ini. Tapi yasudahlah.. Semoga postingan ini ga banyak yang terlewat.

Tidur bebas dan gratis kami di Changi terganggu karena pukul 4 pagi kami dibangunkan petugas Changi dan “diusir” keluar bandara. 🙁
Entah peraturan sejak kapan, yang jelas mood gw jadi berantakan habis kejadian itu. Yaelah baru 2 jam gitu tidur, bangun-bangun udah diusir aje.
Jadi postingan gue sebelumnya diabaikan saja hiks.. Tidur gratis di rest area hanya diperbolehkan apabila kita ada connected flight alias sedang menunggu pesawat selanjutnya, yang jelas sekitar 20-30 orang diusir keluar bandara.

Setelah menunggu sekitar 2 jam diluar imigrasi (di luar imigrasi masih ada tempat makan dan starbuck 24 jam, jadi sembari menunggu MRT bisa bersantai sambil ngopi) kami langsung menuju terminal 2 untuk naik MRT menuju kota. MRT beroperasi dari jam 6 pagi sampai sekitar 11 malam.
Harga tiket juga bervariasi mulai dari 1-3 SGD sekali jalan, tergantung jarak.
Bagi yang sering ke Singapore akan lebih hemat beli MRT Card dengan harga 12 SGD yang bisa berlaku selama 5 tahun.

Dari Changi kami langsung menuju tempat menginap langganan gue, Inncrowd Hotel Backpacker yang terletak di daerah Little India yang sudah ada di beberapa postingan sebelumnya.

Dan mungkin emang “rejeki” gue, dari mulai mendarat di Singapore sampai mau balik ke Jakarta hujan deras mengguyur semua daerah di Singapore. Alhasil kami berangkat ke daerah Kranji dengan berpayung cantik.

Daerah Woodland, Kranji dan sekitarnya merupakan daerah utara Singapore, daerah yang cukup jarang dikunjungi oleh wisatawan, namun ga kalah menarik, karena daerah tersebut merupakan pusat industri dan apartment “pinggir”.
Daerah itu sering juga disebut “junkyard” karena banyak tempat yang menjual sparepart mobil kondisi bagus dengan harga murah.
Dari stasiun Little India, kami turun di stasiun Kranji. Berbeda dengan stasiun di kota, stasiun Kranji lebih mirip stasiun Tanah Abang, dengan kondisi lebih terawat dan bersih tentunya.
Karena daerah Kranji merupakan daerah utara yang dekat dengan perbatasan Malaysia, ga heran daerah tersebut cukup ramai dipenuhi antrian orang-orang yang hendak ke Malaysia naik bus.
Kami meneruskan perjalanan dengan naik Bus SMRT menuju Propel, tempat penjualan spare part mobil Eropa di Kranji Road No. 28.
Sampai disana kami disambut Jonathan, Sales Manager tempat tersebut.

Sebagai orang yang buta otomotif, gue bengong sendiri lihat berbagai mobil mewah yang di “mutilasi” dan diambil spare part-nya. Seperti misal mobil Jaguar, Mercy, Volvo, Audi, Ferrari, VW, Porsche, BMW, dsb. Kondisi mobil cenderung baru, umur sekitar 5-10 tahun.
Dan hal itu wajar karena pajak mobil yang berumur lebih dari lima tahun disana mahal bok..

Selesai antar temen belanja otomotif kami kembali ke kota mencari beberapa barang titipan teman-teman di Orchad, selama perjalanan di daerah Kranji, gue tetap heran, karena di daerah yang jauh dari perkotaan pun, sistem transportasi dan disiplin masyarakatnya tetap terjaga. Jalanan bersih dan rapi. 🙂

Sampai di Orchad gue langsung berkeliling mall dengan mata buas seorang cewek melihat kata “sale” dimana-mana. Untung masih kuat iman, jadi ga tergoda diskon-diskon menyesatkan itu (padahal emang ga ada duit) 😀

Baru satu mall gue kelilingi (Ion Mall) gue udah kecapekan dan memutuskan untuk cari tempat makan dan nongkrong yang asik, tentu saja pilihannya adalah Clarke Quay.

Clarke Quay atau daerah River Side merupakan tempat nongkrong oke dengan berbagai bar, restaurant, club, yang berjajar disamping sungai besar.
Di sana bebas mau belanja di Central Mall, makan malam mewah, naik kapal menyusuri sungai sampai Patung Singa, hingga duduk-duduk lucu pinggir sungai sambil makan eskrim seharga 3 SGD. Dan bagi yang pengin iseng, bisa coba ramalan dari mesin tarot berbentuk madam-madam menyeramkan hanya dengan 1 SGD saja. 😀
Karena masih hujan gue memutuskan untuk nongkrong di bar pinggir sungai sambil selonjorin kaki melepas lelah setelah seharian jalan kaki.

Dan malam minggu kali ini, gue habiskan dengan gerimis di Clarke Quay. 🙂

20130122-071628 PM.jpg

20130122-071732 PM.jpg

20130122-071808 PM.jpg

20130122-071900 PM.jpg

20130122-072233 PM.jpg

20130122-072131 PM.jpg

20130122-072105 PM.jpg

20130122-072152 PM.jpg

20130122-072212 PM.jpg

20130122-072307 PM.jpg

Follow

Get every new post delivered to your Inbox

Join other followers: